Sebait Pesan

Kau boleh mencaciku sesuka hatimu. Setelah itu selesaikan urusanmu bersama Tuhan yang menciptakan aku.

Menjadi Diriku

Menjadi diri sendiri adalah kekayaan yang tak dapat dirupiahkan.

Legenda Sebuah Pertemanan

Ia adalah kado pada persimpangan kehidupan.

Hidup adalah sebuah pilihan

Setiap pilihan yang kita ambil mengandung resiko. Tak ada kata lain selain menikmati resiko.

Kau Air Laut dan Aku Pasir Pantai

Percayalah, pada akhirnya kita akan bersanding menumbangkan segala beda.

Selasa, 13 Maret 2018

Cinta Suci Adinda dan Tahun Kebangkitan Novel Indiva


Keberadaan Penerbit Indiva sebenarnya tidak bisa dilepaskan dengan novel. Di awal berdirinya, Indiva telah menggebrak dunia perbukuan dengan berbagai novel yang khas, seperti De Winst (Afifah Afra), Livor Mortis (Deasylawati P), Rose (Sinta Yudisia) dan Jasmine (Riawani Elyta). Namun, beberapa tahun terakhir ini, Indiva mulai agak jarang menerbitkan novel. Ternyata, hal ini cukup dikeluhkan oleh pembaca. Beberapa pembaca setia Indiva mengaku rindu dengan hadirnya novel-novel inspiratif Indiva.

“Kok Indiva jarang cetak novel baru, novelnya masih itu-itu saja,” keluh mereka.
Menanggapi keluhan tersebut, CEO Penerbit Indiva, Afifah Afra, kemudian merespon dengan menjadikan tahun 2018 sebagai “Tahun Kebangkitan Novel Indiva.”
Di awal tahun, dua novel baru pun terbit, yaitu Cinta Suci Adinda (Afifah Afra) dan Sabda Luka (Gegge Mappangewa. Saat ini, di dapur Indiva sedang digodok novel-novel lainnya. Pada artikel ini, akan dibahas tentang novel Cinta Suci Adinda.

Novel bercover pink ini mungkin berbeda dengan novel-novel Afifah Afra pada umumnya yang cenderung serius. Ya, novel ini lumayan easy reading. Namun, tentunya, sebagaimana novel Indiva dan Afifah Afra pada umumnya, novel ini tetap inspiratif dan sarat hikmah. Sebenarnya, novel ini pernah terbit sekitar 12 tahun yang lalu. Edisi Indonesia berjudul Cinta Adinda, dan edisi Malaysia berjudul Kasih Adinda. Namun, karena sudah tidak beredar di pasaran, Afifah Afra pun mengajak Indiva untuk bekerja sama merepublish novel ini. Tentu novel edisi baru sangat berbeda dengan novel edisi lama. Afifah Afra merasa butuh  memperbaiki novel ini sehingga lebih sesuai dengan ‘zaman now’, logika cerita lebih rapi, konflik lebih tertata. Jadilah novel ini menjadi “menggemuk” sampai setebal 368 halaman.

Cinta Suci Adinda bertutur tentang Adinda, perawat sederhana yang bekerja di sebuah Rumah Sakit Jiwa. Di RSJ tersebut juga terdapat seorang dokter spesialis kejiwaan yang tampan, terkenal dan sangat cerdas, yakni dr. Irhamuddin Prasetyo, Sp.Kj. Seorang lelaki dengan tipe “the most wanted.” Sebenarnya, Dokter Irham sudah memiliki calon istri yang selevel dengannya, seorang doktor hukum lulusan Perancis. Namun, hubungan mereka berantakan karena perbedaan prinsip. Sebelumnya, Irham pun pernah memadu kasih dengan seorang dokter cantik, namun juga berantakan karena si dokter itu memilih menikah dengan seniornya yang jauh lebih mapan.
Karena itulah, hingga usia 30-an, Dokter Irham tetap membujang?

Adinda sendiri berasal dari keluarga miskin. Dia pernah menjadi pembantu di keluarga Brata Kusuma yang kaya raya dan sangat terpandang. Karena kebaikan Brata Kusuma, Adinda pun disekolahkan hingga berhasil menjadi perawat. Ya, perawat, bukan dokter, padahal Adinda adalah bintang kelas, dan sang majikan sanggup membiayai untuk sekolah semahal apapun. Ketika Brata Kusuma terpuruk dan didiagnosis skizofrenia (gila), Adinda berusaha keras mengobati sakit sang majikan, justru ketika keluarga besar Brata justru membiarkannya. Sayang, usaha Adinda justru dianggap melanggar etika oleh keluarga Brata. Adinda pun diusir dari rumah tersebut. Brata sendiri dikurung dalam sebuah vila mewah di pegunungan.

Diam-diam, Adinda berusaha terus mengajak Brata berobat. Dia bahkan berani mengeluarkan biaya besar untuk membayar jasa dr. Irhamuddin. Awalnya hanya interaksi antara dokter dengan perawat di RSJ, kemudian berubah menjadi dokter yang diminta mengobati majikan Adinda, Irham melihat banyak kejanggalan dari kedekatan gadis itu dengan Brata Kusuma. Benarkah kedekatan itu hanya sekadar balas budi Adinda kepada lelaki tua itu? Dan, mengapa keluarga Brata bersikeras melawan usaha Adinda menyembuhkan ayah mereka?

OIKOS
Selain Cinta Suci Adinda, di novel ini juga terdapat bonus novelet berjudul OIKOS. Novelet ini terilhami dari oikos nomos (ekonomi) dan oikos logos (ekologi). Konflik kedua bidang ilmu ini sudah sedemikian kuat. Peristiwa kebakaran hutan yang terus menerus, menjadi alasan saya mengangkat kisah ini.

Tersebutlah dua sosok manusia bernama Oikos. Satu pria mapan, ekonom dan pebisnis andal. Satu perempuan, cerdas dan idealis, ekolog, aktivis lingkungan. Saat masih remaja, keduanya pernah jatuh cinta, tetapi memutuskan berpisah karena ekonomi dan ekologi sering menjelma bak bumi dan langit.
Mereka bertemu kembali ketika perusahaan Oikos sang ekonom membakar hutan di Sumatera, membuat bencana asap super hebat. Oikos sang ekolog bersuara keras melawan si pembakar hutan. Dalam keadaan berlawanan, bibit-bibit cinta justru kembali tumbuh. Lantas, apa yang terjadi dengan mereka? Di tengah membanjirnya pasar novel dengan bacaan yang kurang bisa dipertanggungjawabkan, kehadiran novel islami penuh hikmah seperti Cinta Suci Adinda layak kita apresiasi.

Cover

Data Buku
Judul: Cinta Suci Adinda
Penulis: Afifah Afra
Tebal: 368 hlm
Ukuran: 13 x 19 cm
Penerbit: Indiva Media Kreasi
Harga: Rp 75.000

SINOPSIS:
Adinda ditangkap polisi? Siapa yang bisa percaya kabar itu? Adinda perawat lugu dan berhati selembut sutera. Tak mungkin dia terlibat dalam kriminalitas. Apalagi, tuduhan yang dilayangkan padanya sungguh tak masuk akal: menculik Brata Kusuma, sang penderita skizofrenia yang tak lain adalah mantan majikannya.

Pria itu bagai mutiara bagi Adinda, selalu dirawat dan dijaga. Irham, dokter jiwa ternama itu menyaksikan dengan mata kepala sendiri, betapa besar pengorbanan Adinda untuk Brata Kusuma. Rasanya mustahil dia menjadi aktor di balik penculikan Brata Kusuma. Irham memang tak percaya gadis selugu Adinda terlibat kasus pelanggaran hukum, namun di saat bersamaan, Irham mendapati hubungan yang janggal antara Adinda dan Brata Kusuma. Ya, sebuah interaksi aneh. Tak lagi sekadar hubungan pasien dan perawatnya.

Dokter Irhamudin Prasetya semakin terbebat ketidakmengertian. Bukan sekadar karena kelit kelindan kehidupan yang kian sulit dicerna, namun juga dirinya yang akhirnya menyadari, bahwa daya tarik Adinda telah membuatnya pria terhormat seperti dirinya, justru jatuh pada gadis sederhana yang jauh dari standar idealnya. Cinta Suci Adinda merupakan novel yang bertutur tentang loyalitas, totalitas dan kesederhanaan yang menawan dari seorang perawat bernama Adinda. Selain Cinta Suci Adinda, sebuah novelet cantik berjudul “Oikos” pun dipersembahkan Afifah Afra dalam buku ini. Sebuan novelet dengan latar belakang peristiwa kebakaran hutan di Sumatera beberapa waktu silam.
Selamat membaca!

Selasa, 19 September 2017

PUTRA PUTRI LAWU (BAGIAN 1)

Selamat bulan September :D akhirnya ada moment buat nulis lagi hehe. In this time, I will explain to you about my experience. What is it? Yes, to be tourist ambassador of Karanganyar. Keinggris-inggrisannya udahan ya, takut kesleo lidah. Kembali ke bahasa Indonesia yuh. So, eh..jadi kemarin saya dapat kesempatan menjadi finalis duta wisata Kabupaten Karanganyar 2017. I write this just for you, lahh inggris maneh haha.
            Tulisan ini saya buat untuk teman-teman yang mungkin di kesempatan sebelumnya belum lolos, atau punya keinginan untuk jadi “Putra-Putri Lawu” di periode selanjutnya, atau mau ikutan ajang sejenis di daerah kalian masing-masing. Soalnya, kemarin-kemarin pas searching google, sedikit sekali informasi yang bisa saya dapat tentang event ini. Belajar dari pengalaman sih, semoga pengalaman saya yang tak seberapa ini bisa bermanfaat yah untuk teman-teman semua.

Logo Paguyuban Putra Putri Lawu

            Sebenarnya kalau dibilang gak niat sih bukan, tetap niat kok. Hanya saja niat utamanya adalah mengukur dan mengupgrade kualitas diri. Saya tidak mengejar kemenangan, harus juara atau gimana gitu, tidak!. Sudah sampai di tahap top ten bagi saya sudah syukur Alhamdulillah, karena visi saya yang utama adalah mengukur kemampuan diri tadi.  Apa yang saya inginkan sudah tercapai pula, apalagi kalau bukan pengalaman. ya kan? Sulitlah untuk menjelaskan lebih rinci kenapa tiba-tiba bisa bermanuver ke sektor pariwisata (karena banyak teman yang kaget juga haha). Dasarnya saya orang yang ubet, dan suka coba-coba gitu (kecuali buat anak, jangan coba-coba kata caplang). Pas pengumuman top ten saja saya tinggal tidur hehe. Baru ngeh pas dihubungi salah satu finalis juga yang ngucapin selamat dan akhirnya jadi pasangan dinas sampai sekarang. Sumpah, dulu itu antara percaya enggak percaya. Sempat bimbang mau mundur loh L tapi karena saya membawa nama pihak tertentu juga, dengan bismillah saya jalani semuanya.
Photo session top 10

Untuk pihak-pihak yang merasa saya kecewakan, saya mohon maaf sebesar-besarnya ya. Sungguh saya tidak pernah ada niatan untuk membuat kalian kecewa terhadap saya :’. Kemudian, untuk teman-teman yang sudah mendukung secara langsung maupun tidak langsung, saya ucapkan terima kasih sedalam-dalam, seluas-luasnya, dan sebesr-besarnya yah. Semoga kebaikan kalian dibalas sama Allah karena kalian sudah menjadi orang-orang baik di kehidupan saya.
            Oke, selesai sesi curhatnya. Kita mulai bagian inti tentang seleksi duta wisata khususnya wilayah Kabupaten Karanganyar tercinta. Pertama-tama sebelum mendaftar, ada beberapa hal yang perlu disiapkan gais:
Percaya Diri (Behavior)
Bisa dibilang ini adalah fondasi dasar kamu untuk ikut ajang yang seperti ini. Yah, tidak perlu dijelaskan ya kalau yang namanya “duta” harus siap jadi public figure. Akan banyak mata yang melihat, bahkan mengomentari apa yang ada di dalam diri kamu dan apa yang kamu lakukan. Kalau kamu tidak punya percaya diri lebih, takutnya baru dikomen sedikit saja, jiwamu goyah, terus stress, terus down, terus ngambek dan mundur. Padahal banyak hal baru yang akan kamu temukan dengan menjadi seorang “duta.”
      Percaya diri disini bukan berarti harus menganggap diri paling baik ya. Bukan begitu. Percaya diri disini adalah sikap yang mendasari kamu agar lebih tahan banting terhadap hal-hal yang tiba-tiba datang. Contoh kecil dari pengalaman saya kemarin adalah fashion show. Itu pengalaman pertama hehe. Dulu pas kecil sih pernah punya cita-cita jadi model, dan Allah mengabulkannya di usia 23 tahun ini. Alhamdulillah yak. Mungkin bagi orang yang tidak percaya diri, fashion show adalah ujian yang berat. Salah dikit kelihatan, jadi wajib banyak belajar. Saya juga masih harus banyak belajar kok.
     Bicara soal fashion show, ada hal yang membuat saya cukup sedih, bajunya gak pas. Padahal sudah diukur. Yang harusnya saya pakai baju tertutup (karena berjilbab) mau tidak mau harus ganti dengan dress di bawah lutut karena adanya itu. Sebagai catatan untuk kalian, yang namanya fashion show memang mau tidak mau harus memakai baju yang ada. Kita tidak bisa meminta “mau kita” ke desainer, kecuali ada kesepakatan sebelumnya seperti saya tadi (trouble tadi di luar kendali ya). Jadi, buat kamu yang tidak mau ambil resiko, pikir-pikirlah lagi untuk jadi model kalau ideologi berpakaian kamu kaku. Jujur saya terbiasa dengan jilbab agak lebar sebenarnya, tapi mau tidak mau harus berjilbab lilit (seleher) karena fashion show itu. Akhirnya antisipasi yang paling memungkinkan adalah menutupi dada dengan slempang. Buat para muslimah yang tidak berani ambil resiko, jangan coba-coba yah. Biar saya saja yang dapat dosa. Semoga informasi ini bisa menjadi antisipasi kalian.
            Kalau ada yang nyeletuk, kamu kan muslimah, kok kayak gitu sih? Jujur susah sekali menjawabnya. Saya bukan nabi yang harus selalu di jalan kebenaran. Ada kalanya manusia terpleset. Mungkin ini adalah bagian dari ujian hidup yang harus saya hadapi. Tolong sekali, biar saya dan Allah saja yang menilai. Kalau mau berkomentar, silakan kasih solusi/ masukan buat saya, bukan menghakimi. Via japri lebih afdol. Saya siap menerima masukan teman-teman. Ada kalanya iman di atas, ada kalanya iman di bawah. Bagian ini skip ya, bikin nangis soalnya.
Lanjuuttt. Selain percaya diri, perilaku (secara umum) kamu juga harus baik ya. Pelajari bagaimana bersikap dengan orang-orang di sekitar. Bagaimana cara mengungkapkan pendapat, menolak argument, sampai melakukan aktivitas sehari-hari. Intinya adalah kamu harus ngerti apa itu sopan santun dan bagaimana aplikasinya.  
Penampilan (Beauty)
            Penampilan di sini tidak harus cantik, putih, tinggi, berambut panjang atau ganteng, rambut klimis, tinggi, six pack ya. Penampilan dalam hal ini lebih ke iner beauty sih kalau menurut saya. Soalnya, saya juga biasa saja, maksudnya enggak cantik-cantik amat kayak Soong He Kyo atau Min Ah (ngekek parah). Kalau perilaku kamu baik, kecantikan dan kegantengan itu akan terpancar sendiri tanpa kamu harus bilang ke semua warga negara Indonesia kok kalau kamu itu cantik/ ganteng. Kalau penampilan secara fisik, cukup dengan menjaga kebersihan dan kerapian. Coba belajar berpakaian yang baik, artinya jangan sembarangan pakai baju gitu. Jilbab merah, baju hijau, celana biru laut, beehhh..jemuran jalan Mbak/ Mas? Paham ya maksud saya J
Kecerdasan (Brain)
            Jangan coba-coba menjadi duta wisata tanpa belajar. Eh, semua hal ding, tidak hanya duta wisata atau duta-duta lainnya. Belajar adalah tugas kita sebagai manusia hidup. Ilmu pengetahuan berkembang terus cuy, jadi jangan sampai kita diam kalau enggak mau dibilang manusia purba ditengah kemajuan zaman ini. Ada banyak cara untuk belajar. Google sudah menyiapkan semuanya. Kamu bisa mulai dengan membuka situs web remi milik pemerintah kabupatenmu (klik di sini). Download semua informasi yang ada seputar kepariwisataan dan anak cucunya. Dari ajang ini saya merasa tiba-tiba pintar wkwk. Tahu sih tahu, tapi setelah menikmati proses belajar, banyak sekali pengetahuan yang saya dapat. Akhirnya merasa makin bodoh deh. Ternyata banyak hal yang belum saya tahu. Tidak ada ruginya belajar hal baru, suer!
            Buat kamu yang sudah punya kenalan duta wisata periode sebelumnya, bisa tuh di WA. Banyak-banyakin tanya tentang proses/ tahap seleksinya, apa saja yang perlu disiapkan, boleh juga ngasih harapan tapi jangan palsu. Misalnya, “Mas/ Mbak, nanti kalau aku lolos, aku traktir seminggu deh” wkwk. Dijamin Mas/ Mbaknya siap 24 jam balesin WA. *bercanda ding haha

            Gitu dulu yah, ada banyak sebenarnya yang harus dibahas. Untuk detailnya di post selanjutnya insyaallah. Mungkin tulisan selanjutnya lebih ke proses dari seleksi sampai final. Selamat membaca, semoga bermanfaat bagi kalian semua. 

Selasa, 28 Maret 2017

KARYA SASTRA UNTUK KARAKTER MANUSIA


          Karya sastra merupakan hasil kreativitas manusia yang patut diberi apresiasi tinggi. Sastra adalah hasil refleksi kehidupan nyata yang kemudian diubah ke dalam dunia tulis-menulis dan jadilah sebuah cerita dengan segala kreativitasnya. Rudi Cahyono, founder Indonesia Bercerita (indonesiabercerita.org) mengungkapkan bahwa, “ bercerita itu dapat merubah dari hati tanpa menyakiti, efek lembut tanpa melukai”. Bercerita adalah aktualisasi dari karya sastra, hal tersebut menunjukkan bahwa kekuatan karya sastra bisa membentuk karakter seseorang dengan tanpa disadari karena sifatnya memberi pelajaran tanpa melukai perasaan. Berbeda dengan pembentukan karakter yang pada umumnya diterapkan secara verbal langsung atau tindakan nyata (biasanya diberikan melalui training). Seseorang terbentuk karakternya namun harus memalui cara-cara yang cukup menyakitkan untuk mengubah mindset lamanya yaitu karakter yang kurang baik yang mulai dibangun. 
  
     Sebagaimana diungkapkan oleh Mujiyanto,  Yant dan Amir Fuady (2010: 13). Dari karya sastra yang dihayati secara mendalam, anak akan memperoleh khazanah kata dan ungkapan-ungkapan puitis, santapan ruhani, renungan filsafat, perbendaharaan pengalaman hidup, penghayatan humanitas dan religiositas, kepedulian sosial, dan seterusnya. Dari sana, anak pun bisa berangkat lebih arif, lebih halus jiwanya, lebih peka perasaannya, lebih manusiawi. Beberapa aspek yang disajikan oleh karya sastra adalah ketuhanan, etika dan moral, romantisme dan banyak lainnya. Misalnya saja karya sastra Bumi Cinta karangan Habibburahman yang bernuansa religius dan menbangun jiwa. Dalam buku tersebut dapat ditangkap penanaman karakter penguatan iman, ketabahan serta keiklasan dalam menghadapi segala ujian dari Tuhan. Sastra adalah cerita yang bukan sekadar cerita namun deretan kata-kata memiliki kedalaman makna.
 Karya sastra tidak hanya menghibur namun juga bersifat mengajarkan melalui amanat-amanat yang disampaikan dari alur ceritanya. Contoh lain adalah novel Bekisar Merah yang menonjolkan sisi etika dan moral. Bekisar Merah menceritakan bagaimana kehidupan seorang bekisar (pelacur) yang hina dan menjijikkan. Dari novel tersebut dapat diambil pelajaran bahwa moral seorang pelacur itu buruk sehingga jangan sampai menjadi seperti itu. Hal itu hanya dialami oleh orang-orang tertentu, namun melalui karya sastra Bekisar Merah masyarakat menjadi tahu bagaimana kondisi lain dunia dan belajar untuk menghindarinya. Penguatan juga disampaikan oleh Mohammad Kanzunnudin (2012: 203), karya sastra yang melukiskan dan mengisahkan berbagai tipe karakter tokoh, dapat dijadikan media pendidikan karakter bagi peserta didik (manusia), yakni memberikan teladan kualitas tingkatan watak atau kepribadian yang harus ditiru.
Sastra diyakini dapat menjadi sarana dalam menanam dan memupuk, mengembangkan bahkan melestarikan nilai-nilai yang diyakini baik dan berharga oleh keluarga, masyarakat dan bangsa (Nurgiyantoro, Burhan: 2004: 122). Didalam sastra terdapat pembelajaran kehidupan tanpa orang tersebut harus melaluinya sendiri, sehingga watak dan karakter yang terbentuk akan menjadi benteng pencegah dan sumber pengalaman hidup. Karya sastra memang bersifat fiktif atau khayalan belaka, namun patut kita ingat bahwa sefiksi apapun sebuah cerita pasti ada pesan yang disampaikan.
Membaca karya sastra maupun membuat karya sastra terbukti mampu menjadi pengendali emosi. Beberapa penelitian sudah dilakukan dan hasilnya adalah menulis dapat menjadi media penurun stress yang lumayan efektif. Hal ini mengambarkan penanaman karakter sabar dan tenang dalam menghadapi suatu persoalan. Seperti kata Helvy Tiana Rosa, “Sastra bisa menampung semua gejolak dalam diri, mengurangi derita serta membuatmu lebih peka serta berdaya.”

Jumat, 03 Februari 2017

NIKAH TELAT TAPI TEPAT ATAU NIKAH CEPAT TAPI NEKAD?

Ada yang aneh bin ajaib, jadi ketika saya menulis hal-hal semacam kebaperan gitu viewer blog saya meningkat drastis haha. Ternyata banyak orang jomlo di dunia ini. Padahal saya kalau nulis tema yang kepaberan itu refleks saja. Kadang terpancing karena dicurhatin teman, kadang gatel karena efek habis baca buku high thinking, tapi kadang naluri dari dalam hati haha.
Terus kali ini saya mau bahas bagian mana lagi? Bingung juga sih haha. Ada banyak hal yang berkecamuk di pikiran saya dan minta segera dituliskan, tapi apa daya waktu begitu pendek. Tugas kuliah begitu banyak. Temanya masih sama sih ya itu-itu lagi haha. Tahu kan maksud saya? Tema yang selalu jadi hot topic di grup-grup yang bermacam kultur tapi bahasannya sama: Nikah. Secara tangan lagi gatel nulis yang beginian karena seminggu ini habis ditinggal nikah sama teman-teman seperjuangan haha.

Itu yang suka nyuruh-nyuruh cepat nikah. TENGGELAMKAN!

 Jadi gini, pernah enggak sih kamu merasa muak porsi besar tentang pertanyaan kapan nikah dan kapan nyusul? Heloo si A sudah punya suami loh, si B sudah hamil, si C sudah mau punya 2 anak. Heemm..itu pertanyaan plus pernyataan gampang banget diucapin tapi susah banget dijawabnya. Apalagi buat para jomlo-jomlo yang kelewat umur 20 tahun. Sakit hati adek bang..
            Emosi saya kadang bereaksi keras dengan seabrek peristiwa yang awalnya bahas A tapi ujung-ujungnya bahas Nikah. Alamak. Sudah susah payah meredam gejolak perasaan, eh diberantakin lagi sama orang-orang yang tak bertanggung jawab. Kata salah seorang teman, “Lama-lama kita akan kebal sama pertanyaan horor itu kok.” Iya, kebal sama sebal itu beda-beda tipis. Yang awalnya biasa saja dengan kata “nikah” lama-lama bĂȘte juga tahu kalau tiap keluar rumah yang ditanyain dan dibahas itu lagi..itu lagi. gimana otak enggak bereaksi.
            Lebih herannya lagi, itu orang-orang yang suka men-judgement dan nyuruh-nyuruh segera nikah itu. Hemm. What can I do, dear? Jangan-jangan malah dia sendiri yang ngebet nikah. Pasca tulisan ini terbit pasti bakal tambah banyak orang-orang yang kurang pengertian terhadap nasib jomblo seperti saya. Padahal yang bereaksi terhadap tulisan-tulisan baper ya hanya orang-orang yang lagi baper. Ibaratnya kayak orang yang lagi sakit batuk, pasti dia bakal bereaksi juga kalau lihat artikel tentang penyakit batuk. Padahal yang nulis artikel tentang batuk belum tentu punya sakit batuk. Jadi kalau ada orang yang bilangnya "ah nanti dulu deh nikahnya" atau "nikmatin kesendirian dululah. ngapain cepet-cepet" tapi pas saya nge-post tulisan macam ini dia termasuk orang-orang yang sangat cepat bereaksi, taraaaaaaa.. Masih mau mengelak? Aku apa kamu yang kebelet nikah? Hayooo wkwk
            Lagi baca buku tentang pernikahan, pengasuhan anak, keluarga harmonis, dibilang ‘eh si A itu kebelet nikah banget ya. Bacaannya kayak gitu terus” Hemm..kata “kebelet” itu saja sudah mengarah pada suatu hal yang tidak tertahankan, apalagi diimbuhi kata “banget.” Mubazir kata banget nih ya. Makanya penggunaan kata kebelet itu harus diminimalkan, apalagi buat orang-orang yang kurang mengetahui maknanya. Salah seorang teman saya yang niatnya memang belajar tentang seluk-beluk pernikahan jadi down karena terlabeli secara illegal dengan “kebelet nikah.” Kan kasian dia, niatnya baik malah enggak jadi. Padahal kalau dia benar-benar kebelet nikah, banyak lelaki yang sudah mengantri di depan rumahnya. So, the label is not good, gais. Bahaya! terus gimana? Masih mau men-judgement orang yang bahas dan belajar tentang pernikahan dengan “kebelet nikah”? semoga mau berpikir ulang untuk mengucapkan itu.  hiii…..
Saya jadi ingat pertanyaan teman yang tiba-tiba curcol tentang dirinya yang tak kunjung menikah, padahal gadis-gadis di desanya sudah pada sold out semua. Tinggalah dia yang masih berstatus single available. Dari sekian banyak cerita yang ia sampaikan ke saya, ada satu peryataan yang membuat saya sedikit berpikir dan menggali beberapa memori otak. Pernyataannya adalah, “Aku kira kamu jenis orang yang menganggap menikah adalah bentuk ibadah. Jadi kalau ada yang lamar langsung cus gitu, Han.”
            Heloooo..itu nikah apa naik taksi? Main cuss aja. Saya memang tipe  orang yang berpikir demikian: menikah adalah bentuk ibadah. Nah, karena bentuk ibadah itu makanya saya enggak nikah-nikah. Kok gitu sih? Haha. Begini maksudnya:
           Menikah adalah ibadah yang ketika ada orang yang melakukannya akan mendapat pahala. Nikah juga melengkapi separuh agama. Sampai sini sudah jelas bukan bahwa menikah itu bukan perkara main-main? Yang bukan hanya sehari- dua hari atau kalau bosan bisa minta ganti. Makanya kalau memang sudah ada keinginan ya pantaskan, kalau sudah kebelet ya cari.  Menikah itu ibadah makanya butuh bekal. Mencari bekal itulah tahap awalnya. Seperti sholat yang butuh wudlu, atau puasa yang butuh makan sahur. Semua ada tahapnya. Bukan asal jalan saja. Karena ibadah itulah bekalnya harus maksimal. Kalau cuma asal nikah karena saling suka (yang kebelet itu tadi), anak SMP pun bisa. Banyak sih yang bilang “kalau nunggu siap, enggak bakal ada kata siap.” Nah, dibagian ini saya selalu salut dengan orang-orang yang rela menunda menikah demi mengumpulkan bekal dulu, terus makna “kebelet”-nya dibagian mana coba? Yang kebelet itu mesti enggak bakal sempat mencari bekal, langsung main cuss aja.
Nah, yang membedakan kita dengan yang hanya “kebelet” adalah di situ: perbekalannya. Orang yang kebelet  nikah bakal negebayangin enak-enaknya aja, karena di balik kata kebelet itu ada sekelebat napsu. Enggak mikir ke depannya mau gimana, pokoknya pingin itu ya lakuin. Sedangkan orang-orang yang sudah “mengumpulkan bekal” tadi akan memikirkan menikah dari dua sisi, positif dan negatif. Ia sadar bahwa menikah adalah awal kehidupan rumah tangga yang ke depan pasti bakal banyak ujiannya. Makanya direla-relain nikahnya telat tapi pasangannya tepat, daripada kebelet nikah tapi modalnya nekad.
Pernah suatu ketika salah seorang teman yang namanya mawar (nama samaran) haha mengatakan demikian, “itu si A (maksudnya saya) ikut banyak organisasi, temannya banyak, tapi enggak nikah-nikah” dia mengatakan itu tepat dibelakang saya dan telinga ini jelas sekali menangkap gelombang suaranya. Sakit enggak digituin? (jawab sendiri deh ahaha) Berhubung sudah kenal betul, saya anggap pernyataan itu adalah angin lalu. Toh memang kenyataannya begitu, saya punya banyak teman, tapi memang belum naik pelaminan. No problem gitu loh. Orang tua saja tidak mempermasalahkan. Malah lebih sering tanya mana teman-teman kamu daripada mana calonmu. Selow..bekal saya belum cukup nih. Dan itu tadi, saya tidak ingin menjadi bagian orang-orang yang “kebelet” lantas mengesampingkan “perbekalannya.”
Nah buat mbak-mbak cantik yang nasibnya seperti saya, masih gini-gini aja. Atau mas-mas yang punya hak “tinggal pilih” tapi juga ada yang bernasib sama, jangan sedih. Ada banyak manfaat yang bisa kita ambil kok. Semua akan menikah pada waktunya. Tenang loh. Menikah itu seperti ujian nasional, seperti wisuda, pasti bakal kita lewati. Jangan dipikir terlalu berat, karena yang harus dipikir adalah nilai ibadahnya. Takdir allah lebih indah daripada yang kita sangka. Terbukti, setiap pasangan memiliki moment pertemuan yang selalu indah dan dapat mereka kenang tiap tahunnya. So, kenapa harus gelisah karena ditinggal nikah wkwkwk. Single available itu enggak buruk-buruk amat.
Pertama, dengan menjomblo (lebih tepatnya single) lebih lama, kita memiliki waktu bermain yang lebih panjang. Lebih banyak tempat yang bisa kita kunjungi bareng sahabat. Lebih banyak kesempatan yang bisa kita gunakan untuk quality time bersama keluarga. Dan paling penting lagi nih, makin banyak waktu yang bisa kita gunakan untuk mempersiapkan diri menjelang hari bahagia nanti yang masih Allah rahasiakan. Ngumpulin bekal sebanyak-banyaknya. Intinya, dibalik masa tunggu yang lebih lama, ada kesempatan-kesempatan emas yang bisa kita manfaatkan sebaik mungkin. Bisa belajar masak dulu, belajar parenting dulu, belajar ngurus suami dulu. Yang ibadahnya masih acak adul bisa latihan benerin sholat, puasa, zakat, dan lain sebagainya. Intinya Allah itu baik. Harus jadi perempuan tangguh dulu biar dapat imam yang sama-sama tangguh. Teman-teman saya juga masih banyak yang sendiri dan kami santai dengan itu semua. Malahan beberapa merintis usaha barsama. Itung-itung ngumpulin bekal dalam bentuk modal uang resepsi. Keren kan.
Kedua, waktu sendiri adalah waktu yang paling baik untuk memaksimalkan potensi. Yang suka nulis, sebelum nikah keluarin dulu tuh satu buku karya sendiri. Nanti kalau sudah punya anak mau cari waktu buat nuliskan bakal susah. Dapat satu paragraf, ngoeek. Satu paragraf lagi, ngoek lagi. kapan kelar coba tuh buku. Memaksimalkan potensi di waktu muda itu penting, biar pikirannya teralihkan. Tidak melulu “mupeng” dengan teman atau sahabat yang sudah duluan naik pelaminan. Heloo..si single di dunia ini stoknya bejibun kok.
Ketiga, Allah ingin menunjukkan bahwa kita adalah perempuan dan laki-laki tangguh. Jodoh itu datang ketika kita sudah butuh (jodoh itu sendiri). Ibaratnya ketika kita dilanda kekeringan panjang hingga tanaman hampir mati, Allah memberi hujan untuk menumbuhkannya lagi. Kalau sampai sekarang jodoh masih di tangan Tuhan, berarti kita masih kuat untuk sendirian. Keren kan. De e akan datang di waktu yang tepat kok. Ketika kita sudah siap bekalnya. Allah akan mengatakan “kun faya kun.” Maka datanglah seseorang yang mengetuk pintu rumah dan meminta hatimu. Enggak perlu lagi tuh pakai istilah kebelet segala. Semua memiliki akhir sendiri-sendiri. Santai saja mbak dan broo. Kita doakan mereka yang sudah berlayar mengarungi samudra rumah tangga duluan. Kita di dermaga nunggu nahkoda yang membawa kapal disambi beli sayur, ikan, beras, minyak, buat bekal nanti di tengah lautan. Kan bahaya kalau enggak makan, nanti mati terus siapa yang menjalankan kapal? Bisa kandas kan?

Jumat, 20 Januari 2017

I AM SORRY, EVERYTHING IS MY FALSE

Kalimat- kalimat itu masih sangat terasa menyakitkannya. Di suatu pagi selepas mengantar adik berangkat sekolah, seorang laki-laki datang menghampiri. Laki-laki yang sudah berumur itu adalah tetangga ketika ibu dan bapak masih mengontrak di salah satu desa. Orangnya baik, sering datang ke rumah. Setidaknya menyapa ibu yang sedang masak, atau ayah yang sedang beraktivitas dengan kambing-kambingnya.
Well, sejauh itu saya anggap dia orang baik. Tetapi semuanya sedikit berbeda ketika pagi itu ia bertandang ke rumah seperti biasa. Tidak untuk mencari ibu atau ayah, tapi menemui saya yang tengah sibuk mengecek kondisi sepeda motor sebelum digunakan untuk bekerja. Maklum sekolah tempat saya mengajar berada di lereng gunung, jalannya cukup menanjak dan butuh sepeda motor yang kondisinya prima.
Lelaki itu datang dengan muka biasa saja, tapi saya salah. Kata-kata yang keluar dari mulutnya ternyata berbau tak sedap. Bukan karena dia jarang gosok gigi, tapi menurut saya ada aroma kebencian atau apalah itu yang membuatnya terasa tak enak didengar. Entahlah, saya bukan Tuhan yang mampu menerjemahkan isi hati seseorang. Setidaknya, dengan mendengar dan mencerna setiap kata yang terucap saya cukup paham apa maksudnya bagaimana.
“Han..” panggilnya. Laki-laki itu memanggil saya dengan nama secara langsung. Sudah terbiasa sejak kecil. Sejak saya TK kami adalah tetangga dekat sekali, bahkan bisa dibilang rumah kami berhimpitan.
“Yang kamu cari itu apa? Yang kamu kejar itu apa? Sudah lulus kok sekolah lagi”
“..” saya hanya diam karena masih terlalu syok dengan kalimat pertama yang keluar. Nadanya tak enak. Sulit mendeskripsikannya dengan kata-kata.
“Anakku cuma sarjana. Sudah bisa kerja di Jakarta. Tiap tahun kirim uang banyak. Kemarin pulang malah sudah bawa cewek.”
“..” saya masih tetap diam. Lebih tepatnya menahan rasa sakit yang semakin berlipat.
Uwislah, jangan nyusahin bapakmu terus. Kasihan itu hlo banting tulang buat kamu. Adik-adikmu juga butuh sekolah to.”
“ya..” saya jawab sekenanya. Sesungguhnya ingin rasanya berlari ke dalam dan menangis sesenggukan.
“Bapakmu kalau sama aku jujur. Tidak ada yang ditutup-tutupi.”
“nggih”
Kemudian saya masuk. Mengambil tas di kamar. Sempat merenung sejenak untuk menguatkan hati agar tidak menangis sekarang, “Ya Allah..sabar..”
Ketika rasa sedih itu sudah terbendung, saya keluar lagi hendak berangkat. Laki-laki itu masih juga di sana, belum berpindah. “Eh, aku bilang begini bukan untuk membanggakan anakku-anakku sing wis kerja loh ya. Mereka itu manut-manut kabeh. Kamu harus seperti mereka.”
“..” saya diam dan menyalakan mesin sepeda motor. “Monggo, Pak.”
Percakapan menyakitkan itu berhenti. Tetapi luka dihati tak juga berhenti. Hari demi hari sepertinya membuat luka itu semakin abadi. Beberapa orang yang mengetahui perubahan muka saya cukup curiga hari itu, tapi mereka tak perlu saya libatkan dengan masalah pribadi ini. Cukup jalan-jalan desa ini yang mengetahui. 

Menyusahkan orang tua? Ya, saya salah karena selalu menyusahkan bapak. Bahkan ketika di hari H pembayaran daftar ulang pascasarjana yang merengek meminta saya untuk segera membayar adalah orang tua juga. Saya salah ketika saat itu bersikeras untuk tidak perlu membayarnya karena sudah terlanjur diterima kerja. Saya salah ketika dengan waktu yang sudah mulai habis nekat memenuhi permintaan orang tua untuk segera pergi ke bank terdekat dan mendaftar ulang.
Mengambil studi lanjut? Ya, itu salah saya juga. Tidak akan ada gunanya menjelaskan meski mulut ini sampai berbusa bercerita bagaimana kronologi saya bisa masuk S2. Ada campur tangan Allah di sana, tapi orang-orang selalu menganggap bahwa saya adalah penyebabnya. Bahkan, ketika saya bermimpi memiliki pekerjaan yang baik dan kemudian mengambil tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga, semua juga salah saya. Saya salah ketika memiliki niat ingin mengantikan peran orang tua untuk menyekolahkan adik-adik saya minimal sampai sarjana nantinya.
 Orang-orang hanya peduli dengan mimpi kecil yang bisa mereka lihat sesegera mungkin. Lulus, kerja, menikah, punya anak. Sependek itu. Mereka tak pernah melibatkan saya sebagai pelaku utama yang seharusnya ditanyakan apa maksudnya berjalan di jalan seperti itu. Ini salah saya lagi. Saya salah karena tidak pernah membeberkan bagaimana mimpi dan harapan besar yang sudah saya bangun jauh-jauh hari untuk keluarga saya ini. Bermimpi besar ternyata juga sebuah kesalahan yang saya lakukan. Iya itu salah saya lagi.
Pun salah saya juga ketika kemungkinan terburuk dari keluarga ini sudah saya persiapkan. Saya salah ketika saya sudah menyadari bahwa umur manusia tak ada yang tahu. Saya juga salah ketika mengetahui bahwa profesi bapak bukanlah profesi yang bisa selamanya menghasilkan. Saya salah ketika memiliki seorang ayah yang semakin tua umurnya maka penglihatannya semakin kabur dan tak akan lagi bisa bekerja untuk kami semua. Saya salah juga ketika memiliki ibu yang tak bekerja dan menganggur di rumah karena ada beberapa kondisi yang tak memberinya kesempatan untuk bisa bekerja seperti ibu rumah tangga lainnya.
Sampai saat ini saya belum membawa seorang laki-laki? Iya, benar itu salah saya lagi karena tak segera membawa “calon” ke hadapan orang tua. Saya salah karena belajar agama yang menerangkan bahwa “seorang perempuan tidak boleh bersama dengan seorang laki-laki yang bukan mahromnya.” Saya salah ketika menerapkan itu. Kenyataannya yang benar adalah saya seorang muslimah yang tahu agama dan harusnya membawa laki-laki yang belum sah menjadi siapa-siapa ke dalam rumah dan berkata, “Pak, Bu, ini pacarku!” Saya salah karena mengambil keputusan hanya memilih laki-laki yang paham bagaimana cara meminang seorang perempuan dalam agama Islam. Saya salah ketika memiliki landasan hidup bahwa hanya laki-laki yang sudah memiliki “tanggal” pasti yang akan saya izinkan datang untuk mengantar sebagian mahar.
Sudah lulus tapi tidak bekerja? Oke, salah saya lagi. Dalam semua hal di hidup ini memang saya selalu menjadi objek yang disalahkan. Mengapa? Karena ini hidup saya. Mereka yang berada di sekitar saya adalah pihak-pihak yang selalu benar. Saya salah ketika sudah bergelar sarjana tapi tidak bekerja. Saya salah karena pihak yayasan yang saat itu memberi kesempatan bekerja memutuskan untuk menghentikan kerja samanya dengan saya karena tidak bisa menerima guru yang nyambi di pascasarjana. Saya yang saat itu sudah sekuat tenaga melobi pihak tertinggi yayasan sampai pihak terendah yayasan agar tetap diizinkan bekerja juga merupakan kesalahan. Pada akhirnya hasilnya ‘resign” juga. Saya juga salah telah meminta bantuan kepada banyak rekan untuk mencarikan pekerjaan. Saya salah lagi ketika tiap malam meminta petunjuk untuk dimudahkan dalam mendapat pekerjaan dan membayar SPP pascasarjana saya sendiri. Saya juga salah ketika saya sudah bekerja tapi tidak memberi tahu status “guru aktif” saya kepada khalayak ramai sehingga mereka menganggap saya pengangguran yang luntang luntung di rumah, membebani orang tua, dan menjadi anak yang tak berguna. 
Salah, salah, dan salah, ketika semua usaha saya mengarahkan ke jalan yang seperti demikian apa tetap salah? Bukankah manusia hanya bisa berencana sedang yang memutuskan tetaplah Allah semata? Jadi yang salah saya atau Allah-nya? Ah, semua salah saya. Ditambah lagi saya menuliskan ini untuk sedikit membuka mata bahwa disekitar kita semakin banyak orang yang mulutnya sibuk mengomentari hidup orang lain dan lupa tabayyun dulu. Satu lagi, sampai saat ini bapak tetap orang baik karena telah turut serta menjadi teman main saya waktu kecil. Terima kasih ya pak sudah menjadi pelecut motivasi saya untuk bisa lulus pascasarjana. Beberapa tahun lagi saya ingin bisa tetap berjumpa dengan bapak untuk berkata, “Pak, ini undangan syukuran adik-adik saya. Alhamdulillah mereka sudah jadi sarjana semua. ” Terima kasih lagi karena membuat hati saya semakin kokoh, semakin menjadi 

perempuan bermental pria.

 Karanganyar, 20 Januari 2017

Minggu, 18 Desember 2016

Ada Apa dengan Perempuan?

“Kau tahu puteriku sayang? Laki- laki adalah layang- layang dan perempuan adalah benang. Tanpa perempuan, laki- laki tak akan menjadi apa- apa. Di balik ketinggian (kesuksesan), ada perempuan dibaliknya. Puteriku, jadilah benang dengan kualitas terbaik. Buatlah layang- layangmu kelak terbang  setinggi- tingginya. Karena setinggi apapun ia terbang, ia selalu terkait denganmu dan bergantung padamu. Jagalah dia agar tak putus atau hilang arah. Ingatlah bahwa layang- layang selalu ingin terbang tinggi.” 

Saya awali tulisan ini dengan kalimat ampuh Kurniawan Gunadi. Seorang aktivis mahasiswa di Institut Teknologi Bandung. Langkahnya sudah tak mampu dibendung, buku- bukunya laris manis bak jagung “godog” kala hujan meradang. Dikepalanya, tersemat mahkota pemimpin dari sebuah forum pemuda (ke-XVI) yang tenar di jagad kampus seluruh Indonesia. Bukan kesuksesannya yang ingin saya bahas disini. Namun, tentang caranya memandang keistimewaan seorang perempuan.
Bagaimana pun, kita tak lagi punya kesempatan untuk mengelak tentang pentingnya peran perempuan dari zaman ke zaman. Bila tak banyak yang tahu mengenai seorang Kurniawan Gunadi, bagaimana dengan yang satu ini? Tentunya sosok B. J. Habibie tidak akan pernah terusir dari ingatan masyarakat Indoneisa. Perjuangannya menciptakan pesawat terbang mengalir dari generasi ke generasi. Menjadi pil semangat bagi generasi muda untuk senantiasa berprestasi di bidangnya. Adalah rahasia umum bahwa, dibalik kehebatan beliau, ada Ibu Ainun yang menyertai setiap langkahnya. Kisahnya diadaptasi dalam film berjudul Habibie dan Ainun yang telah banyak ditayangkan pula di berbagai negara tetangga. “Saya dan Ainun adalah dua raga yang berada dalam satu jiwa,” begitulah Bapak Habibie memuliakan perempuan yang selalu ada di sampingnya. Air matanya selalu menetes ketika berbicara mengenai istri yang telah meninggalkannya terlebih dahulu ke hadapan- Nya.
            Mari kita tutup sejenak cerita mengenai Habibie dan Ainun. Sebagai generasi muda, terutama perempuan- perempuan muda yang mungkin adalah anda yang sedang membaca ini, apakah harus menjadi Ainun untuk bisa dikatakan perempuan hebat? Pelaut ulung adalah teman ombak besar. Proses yang ia lalui tak akan pernah menghianati hasil. Bila ingin menjadi bernilai, berarti harus rela ditempa. Menjadi perempuan yang bernilai lebih, berarti harus ada usaha.
Dalam Islam, Khadijah r.a istri Rasulullah adalah sosok yang luar biasa. Bahasa anak muda sekarang ini adalah Alpha female. Alpha female adalah peremuan yang memiliki berperan dalam kelompoknya. Para perempuan yang menginspirasi, memimpin, menggerakkan orang- orang sekitarnya, dan membawa perubahan. Sampai sekarang pun, banyak muslimah yang mengidolakan dan mencontoh beliau. Mencontoh tindak tanduknya, cara berbisnisnya, hingga cara beliau memuliakan nabi Muhammad SAW. Alpha female mencerminkan hubungan perempuan dengan lingkungan sekitarnya. Bagi saya, menjadi alpha female pada zaman ini bukan berarti harus menjadi ketua RT, bupati, gubernur, walikota, atau presiden. Alpha female lebih mengarah kepada peran untuk berbagi kepada sesama, terutama sesama perempuan. Bukan hanya berbagi harta, namun berbagi ilmu baik ilmu agama yang dipahami maupun ilmu kehidupan yang berasal dari pengalaman- pengalaman. Perlu digaris bawahi bahwa menyembunyikan ilmu adalah sebuah larangan dalam islam. Dalam sebuah hadist berbunyi:

Man su’ila ‘an ‘ilmin fakatamahu uljima yaumal qiyaamati bilijaamin minnaarin

(Barang siapa ditanya tentang suatu ilmu kemudian menyembunyikannya, maka pada hari kiamat ia akan dicambuk dengan cambuk neraka)
Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, setiap perempuan wajib berpendidikan tinggi karena mereka akan menjadi seorang ibu. Ibu- ibu yang cerdas akan melahirkan anak- anak yang cerdas. Tentunya, ibu adalah perempuan yang akan menjadi madrasah pertama bagi anak- anaknya. Membagikan ilmu yang ia miliki kepada anak- anaknya. Apa yang akan terjadi bila kita menjadi perempuan yang malas belajar? Tentu semua sudah mengetahui jawabannya. 
Tentu kita semua sepakat dengan kalimat “Perempuan terdidik akan menghasilkan generasi yang terdidik.” Entah siapa pun yang mencetuskan ungkapan itu pertama kali yang jelas begitu tenar kini. Generasi yang terdidik adalah generasi yang mampu membangun zaman, tidak hanya numpang tidur dan makan (hedonis). Generasi Hedonisme adalah genarasi yang sudah tertutup mata hatinya oleh kepentingan dan kesenangan dunia. Selalu mengutamakan “mata’un qalil” atau kesenangan yang semu saja. Bila seorang ibu melahirkan seorang anak, maka ia membangun dunia satu generasi. Apalagi bila melahirkan anak yang dibekali ilmu agama yang baik, maka ia sedang membangun satu generasi beserta kejayaannya esok hari.
Kita memang tidak memiliki pilihan untuk menjadi laki- laki atau perempuan. Pun tidak memiliki kesempatan untuk hidup di beberapa zaman. Namun, kita punya pilihan untuk menjadi perempuan pembangun peradaban. Besarnya peran seorang perempuan dalam membangun generasi, tak boleh hanya dipandang sebelah mata apalagi diacuhkan begitu saja. Perlu adanya usaha untuk turut serta membangun bangsa dan menghidupkan islam dalam setiap dekadenya. Khadijah, Maryam, Aisyah, Ainun dan sosok- sosok hebat lain adalah sekian dari puluhan ribu perempuan yang dapat memberikan teladan bagi kita semua.
(Telah termuat di majalah Cahaya Hati)

Sabtu, 19 November 2016

BEBERAPA PANDANGAN UNTUK KEBUDAYAAN

Haniah
Universitas Sebelas Maret
Jalan Ir. Sutami 36A, Kentingan, Jebres, Surakarta
Kebudayaan merupakan unsur yang lekat dengan masyarakat.  Kebudayaan berasal dari kata “budaya” yang berasal dari Sansakerta “budhayah” sebagai bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Kebudayaan adalah hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal (Sudibyo,dkk, 2013: 29). Kebudayaan adalah semua hasil ciptaan manusia yang terdiri daripada budaya material dan bukan material. Budaya material adalah budaya yang boleh dilihat, disentuh, dirasa dan mempunyai bentuk fisikal seperti komputer, telefon, bimbit dan lain-lain lagi. Manakala budaya bukan material merupakan budaya yang terhasil dalam bentuk abstrak seperti teori, ideologi, formula dan falsafah. Selanjutnya  Koentjaraningrat  (1980)  mendefinisikan Kebudayaan sebagai “keseluruhan dari  hasil budi dan karya”. Dengan kata lain “kebudayaan  adalah keseluruhan dari apa yang pernah dihasilkan  oleh manusia karena pemikiran dan karyanya”. Jadi, kebudayaan merupakan produk dari budaya.
Wujud dari kebudayaan terbagi menjadi beberapa macam. Koentjaraningrat (2000: 5-6) menjelaskan wujud-wujud kebudayaan. Wujud pertama adalah wujud ideel. Wujud ideel ini dapat disebut sebagai adat tata kelakuan, bentuknya abstrak dan lokasinya berada di kepala-kepala/ alam pikiran kebudayaan itu hidup. Sebutan tata kelakuan itu merujuk pada fungsi mengatur, mengendalikan, member arah, kepada kelakuan dan perbuatan manusia. Wujud kedua adalah kebudayaan yang sering disebut sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari pola aktivitas-aktivitas manusia. Wujud ketiga adalah kebudayaan yang berbentuk fisik. Kebudayaan ini bersifat paling konkret karena berupa benda yang dapat dilihat dan diraba. Ketiga wujud kebudayaan tersebut tidak dapat berdiri sendiri, dan saling terkait satu sama lain.
   Warsito (2012: 55) memberikan gambaran bahwa sebuah universitas adalah produk kebudayaan. Universitas merupakan wujud ideal kebudayaan yang terdiri dari cita-cita universitas, norma-norma untuk mahasiswa, karyawan dan dosen, aturan ujian, dan lain sebagainya. Sebuah universitas berdiri mengangkat tujuan dan kebutuhan suatu kota atau lingkup wilayah tertentu sebagai jawaban atas masalah-masalah yang terjadi. Realitasnya, masing-masing wilayah memiliki permasalahan dan solusi yang berbeda. Oleh karena itu, bila universitas merupakan gambaran kebudayaan maka sesungguhnya tidak ada universitas terbaik maupun yang kurang baik.
Pemeringkatan universitas sama saja dengan pemeringkatan kebudayaan. Padahal masing-masing universitas mengembang tujuan dan kebutuhan yang berbeda. Gambaran di atas mengerucut pada tidak adanya pemeringkatan atau asumsi bahwa ada satu kebudayaan yang lebih tinggi dari kebudayaan lain. Penulis memandang bahwa masing-masing kebudayaan memiliki fungsinya sendiri-sendiri. Kebudayaan tidak ada yang sama, dan tidak ada yang lebih baik maupun paling baik di antara kesemuanya itu. Beberapa pandangan memberikan reaksi berbeda dan berseberangan terkait posisi budaya dengan budaya lain. Tergantung dari perspektif mana kebudayaan tersebut dilihat. Hal tersebut sah-sah saja asalkan tetap menjunjung kebhinekaan terutama di Indonesia.
Keberadaan budaya Indonesia yang sangat multikultural secara tidak langsung  mewajibkan setiap manusia untuk dapat menyesuaikan diri terhadap semua macam budaya yang ada.  Beberapa pihak memandang bahwa budaya adalah sesuatu yang penting maka pandangan terhadap budaya juga harus diperhatikan. Sikap etnosentrisme adalah sikap yang mengagungkan budaya suku bangsanya sendiri dan menganggap rendah budaya suku lain (Setiadi, Hakam, dan Effendi, 2012: 43). Sikap inilah yang mendasari adanya perbedaan pandangan tentang posisi antarbudaya.  Etnosentrisme tidak selalu buruk. Liliweri (2009: 138) menjelaskan bahwa nasionalisme merupakan salah satu bentuk etnosentrisme. Nasionalis sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup suatu negara.
Etnosentrisme menurut Nanda dan Warms dalam Darmastuti (2013:73) merupakan “pandangan bahwa budaya seseorang lebih unggul dibandingkan dengan budaya yang lain”. Pandangan dari definisi Nanda dan Warms tersebut maksudnya hasil penilaian budaya lain menurut kacamata budaya kita. Samovar dan kawan-kawan dalam Darmastuti menambahkan bahwa etnosentrisme memiliki 3 tingkatan, pertama, pandangan positif maksudnya kepercayaan menurut kita budaya kita lebih baik dari budaya lain. Pandangan tersebut biasanya membuat kita merasa bangga akan budaya yang kita miliki dan berusaha untuk melestarikannya. Kedua, tingkat negatif, maksudnya seringkali kita menganggap budaya kita sebagai pusat dari segalanya, sehingga kita memandang budaya lain sebagian dengan standar budaya kita. Ketiga, tingkat yang sangat negatif, tingkatan ini menganggap bahwa budaya kita paling berkuasa, sehingga kita merasa budaya kita harus diadopsi oleh budaya lain menyebabkan sikap egoisme pada budaya. Jika etnosentrisme terus berkembang, dapat menyebabkan konflik diantara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain, karena merasa mereka lebih baik dibandingkan dengan yang lain.
Etnosentrisme sebagai suatu kecenderungan bukanlah hal yang harus dimusuhi. Ihromi (2013: 14) member penekanan bahwa kebiasaan menilai “baik” atau “kurang baik” adalah tidak ada gunanya. Lagipula, gagasan tentang adat istiadat yang baik maupun yang buruk akan berubah seiring berjalannya waktu. Sebagai manusia yang berbudaya di tengah masyarakat multikultural, sudah  menjadi keharusan untuk menjaga dan saling menghargai antarpemeluk budaya.
DAFTAR PUSTAKA
Darmastuti, Rini. 2013. Mindfullness Dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Buku Litera
Ihromi, T. O. (2013) Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Jakarta: Pustaka Obor
Liliweri, Alo. (2009). Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Koentjaraningrat. (1980). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru
______________. (2000). Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Setiadi, Elly M., Kama A. Hakam, Ridwan Effendi. (2012). Ilmu Sosial Budaya Dasar. Jakarta: Kencana
Sudibyo, Lies, dkk. (2013). Ilmu Sosial Budaya Dasar. Yogyakarta: ANDI
Warsito. (2012). Antropologi Budaya. Yogyakarta: Penerbit Ombak